problematika pembelajaran daring di masa pandemi

Nama : Taufik Hidayat 
Kelas : PAI 4H 
Makul : Magang 1 

Menyikapi problematika pembelajaran daring di masa COVID19 

Problematika Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19. 
Sudah setahun Negara kita bahkan bisa di bilang hampir seluruh dunia mengalami pandemi yang tidak asing lagi namanya yaitu Covid 19 Inilah penyakit virus yang mengguncang kan dunia dan merosotkan sistem perekonomian dunia bahkan sampai merambat kedunia pendidikan. 
Dalam suatu wawancara sejumlah guru di sekolah mengakui bahwa pembelajaran daring ini
kurang efektif apabila dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka langsung, karena
beberapa alasan, yaitu:
Pertama, konten materi yang disampaikan secara daring belum tentu bisa dipahami
semua peserta didik. Sebab konten materi ini disajikan dalam bentuk e-book yang disajikan
per bab, materi berbentuk powerpoint, dan dalam bentuk video pembelajaran. Mungkin materi dapat dipahami, tetapi pemahaman peserta didik tidak komprehensif. Mereka
memahami berdasarkan tafsiran atau sudut pandang mereka sendiri. Hal ini terbukti dari
pengalaman di lapangan, banyak sesuai yang meminta penjelasan lebih lanjut terhadap materi
yang disajikan secara daring melalui chatting whatshapp atau menelepon langsung kepada
guru. Tampaknya, menurut hemat penulis dan berdasarkan pengalaman mengajar secara
daring, sistem ini hanya efektif untuk memberi penugasan dan kuis. Artinya, ketika dalam
suatu pertemuan, peserta didik diberikan tugas/kuis, mereka ada ketekunan untuk menelaah
bahan ajar yang tersedia di aplikasi atau mencari dari sumber-sumber lain, sehingga ada
“kegelisahan” jika tugas/kuis belum diselesaikan. Berbeda halnya apabila guru mem-posting
materi yang tidak disertai penugasan, hanya diminta mempelajarinya, maka ceritanya akan
lain;
Kedua, kemampuan guru terbatas dalam menggunakan teknologi pada pembelajaran
daring. Tidak semua guru mampu mengoperasikan komputer atau gadget untuk mendukung
kegiatan pembalajaran, baik dalam tatap muka langsung, terlebih lagi dalam pembalajaran
daring. Memang ada sebagian guru mampu mengoprasikan komputer, tetapi dalam hal
pengopresian terbatas. Mereka tidak mampu mengakses lebih jauh yang berkaitan dengan
jaringan internet, menggunakan berbagai aplikasi pembelajaran, membuat media/video
pembalajaran sendiri dan sebaginya. Tanpa di-nafi-kan juga, sejumlah guru mampu menguasi
IT secara menyeluruh, hingga mampu memproduksi video pembelajaran yang menarik dan
tidak sedikit yang menjadi youtuber; dan
Ketiga, keterbatasan guru dalam melakukan kontrol saat berlangsungnya pembelajaran
daring. Hal ini antara lain disebabkan aplikasi yang digunakan tidak menyajikan menu forum
diskusi untuk menjelaskan atau menanyakan materi. Kalaupun ada menu tersebut, banyak
peserta didik tidak memanfaatkannya dengan baik. Sebab lainnya, peserta didik pada saat
awal pembelajaran mengisi daftar hadir, setelahnya tidak aktif lagi sampai selesai waktu
pembelajaran, pergi untuk melakukan aktivitas lain di luar pembelajaran. Namun, tidak boleh
di-nafi-kan sama sekali, banyak peserta didik benar-benar aktif hingga pembelajaran selasai,
dan ada juga yang aktif tetapi tidak full sampai pembelajaran berakhir.
Dari faktor peserta didik, ditemukan permasalahan peserta didik dari buku Pengalaman
Baik Mengajar di Masa Pandemi Covid-19 Mapel Bahasa Indonesia (Kemdikbud, 2020)
tentang hambatan yang dihadapi peserta didik dalam pembelajaran daring, yaitu:
1.  peserta didik kurang aktif dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran daring
meskipun mereka didukung dengan fasilitas yang memadai dari segi ketersediaan perangkat
komputer, handphone/gadget, dan jaringan internet. Kurangnya kepedulian akan pentingnya
literasi dan pengumpulan tugas portofolio, sering menghambat jalannya BDR. Tugas yang
seharusnya dikumpulkan dalam tenggang waktu satu minggu sering molor menjadi dua
minggu.
2. peserta didik tidak memiliki perangkat handphone/gadget yang digunakan
sebagai media belajar daring, kalaupun ada, itu milik orangtua mereka. Jika belajar daring,
mereka harus bergantian menggunakannya dengan orangtua, dan mendapat giliran setelah
orangtua pulang kerja. Ada yang pulang di siang hari, sore hari, bahkan malam hari.
Sementara itu umumnya jadwal pembelajaran daring di sekolah dilakukan mulai pagi hari
hingga siang hari.
3. sejumlah peserta didik tinggal di wilayah yang tidak memiliki akses internet.
Mereka tidak dapat menerima tugas yang disampaikan oleh guru baik melalui whatsapp atau kelas maya. 
4. mengingat perjalanan BDR sudah berlangsung sekitar enam bulan sejak
pertengahan Maret 2020, menurut beberapa peserta didik, terlalu lama BDR membuat mereka
malas dan membosankan.
Adapun solusi untuk menyikapi problematika pembelajaran daring di masa COVID19. 
Solusi permasalahan dari faktor orang tua yakni dengan melakukan komunikasi (via
handphone/whatsapp) dengan para orangtua untuk meluangkan waktu untuk segera kembali
ke rumah dari tempat kerja agar handphone/gadget segera digunakan oleh anaknya untuk
belajar daring; memberi kelonggaran waktu mengerjakan tugas agar peserta didik yang
bergantian handphone/gadget dengan orang tuanya dapat terlayani; meminta bantuan wali
kelas untuk menginformasikan kemajuan belajar peserta didik melalui whatsapp grup
paguyuban orang tua sehingga orang tua diharapkan mampu memotivasi dan mendampingi
anaknya yang kurang memperhatikan tugas dari guru; pengampu mata pelajaran meminta bantuan peserta didik yang aktif untuk menginformasikan tagihan yang belum dikerjakan
oleh peserta yang kurang peduli; pengampu mata pelajaran menghubungi langsung nomor
handphone peserta didik untuk menanyakan sebab-sebab tidak mengerjakan tugas yang
diberikan; meminta bantuan kepada guru BK untuk memotivasi peserta didik dalam belajar
(Susilowati dalam Kemdikbud, 2020).
Paparan di atas, memberikan gambaran bahwa pembelajaran daring dapat berjalan
sesuai kondisi yang dialami dengan berbagai permasalahan yang muncul baik yang sederhana
maupun kompleks. Setiap permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan
menghadirkan beragam solusi dari para guru sehingga pembelajaran di masa pandemi covid- 19 tetap berlangsung, yang penting anak tetap belajar dan terus belajar meskipun BDR. Sebab
pelaksanaan BDR ini tidak mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi menekankan pada
kompetensi literasi dan numerasi. Dalam penerapan pembelajaran daring, guru menggunakan
berbagai perangkat teknologi di bidang pendidikan dan mampu memilih berbagai aplikasi
yang sesuai kebutuhan dan karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan situasi lingkungan
yang dihadapi, sehingga dapat membantu untuk menyampaikan materi pembelajaran
(transfer of knowledge) kepada peserta didik. Meskipun diakui bahwa dalam praktik
pembelajaran daring ini guru lebih dominan dalam pemberian tugas, bukan penjelasan materi.
Namun hakekatnya, peran guru itu tidak bisa tergantikan dengan teknologi
bagaimanapun canggihnya. Penggunaan teknologi di bidang pendidikan hanya mampu
membantu guru dalam transfer of knowledge, bukan pada pembentukan karakter peserta
didik. Sejalan dengan apa yang ungkapkan oleh pakar pendidikan Universitas Terbuka, Ojat
Darojat (dalam https://www.jpnn.com/news/prof-ojat-guru-tidak-akan-tergantikan-dengan-
teknologi), bahwa teknologi tidak bisa menggantikan posisi guru. Kalaupun akan ada robot,
tetapi sekedar mengajar bukan mendidik. Tugas mendidik ini hanya bisa dilakukan seorang
guru secara langsung. Ditegaskan pula bahwa revolusi industri 4.0 tidak akan mampu
menggantikan peran guru sebagai tenaga pendidik.
Pada prinsipnya, pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh di masa pandemi
covid-19 dan masa kebiasaan baru memperhatikan hal-hal berikut, a) tidak membahayakan,
sebagaimana guru di seluruh dunia yang mencoba untuk mengurangi kemungkinan kerugian
dalam belajar, karena gangguan sekolah; b) realistis, guru hendaknya memiliki ekspektasi
yang realistis mengenai apa yang dapat dicapai dengan pembelajaran jarak jauh, dan
menggunakan penilaian profesional untuk menilai konsekuensi dari rencana pembelajaran
tersebut; c) tidak membebani peserta didik dengan tugas-tugas yang memberatkan; d)
memberikan pengalaman belajar yang bermakna dengan menerapkan strategi dan metode
pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan materi; dan fokus pada pendidikan kecakapan
hidup, khusus pencegahan dan penanganan pandemi Covid-l9, perilaku hidup bersih dan
sehat dan gerakan masyarakat sehat; dan e) pembelajaran bagi peserta didik baru mengikuti
kebijakan satuan pendidikan. Sejalan pula apa yang dikemukakan Nadim Makarim, bahwa
prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi covid-19 adalah mengutamakan kesehatan dan
keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat secara
umum, serta mempertimbangkan tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial
dalam upaya pemenuhan layanan pendidikan
(https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/09/mendikbud-dan-mendagri-gelar-rakor- dengan-kepala-daerah-bahas-pembelajaran-di-masa-pandemi.